KEBUDAYAAN DAERAH JAWA BARAT
Nama
: eko fitriyono
NPM
: 33414461
Kelas
: 1 ID 13
Indonesia memiliki beragam suku bangsa, bahasa dan budaya. Salah satunya
kebudayaan jawa barat ini. Jawa barat terkenal dengan budaya sunda,
tarian jaipongnya yang sudah terkenal dan wayang goleknya yang unik dan
mengagumkan, dan yang tidak kalah mengagumkan adalah angklung, merupakan alat
musik yang terbuat dari bambu yang menghasilkan suara khas yang tiada
bandingannya dan hanya indonesialah yang memiliki alat musik ini,semua ini
adalah ciri khas jawa barat.
Kebudayaan Sunda merupakan salah satu kebudayaan
yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa
Indonesia yang dalam perkembangannya perlu
dilestarikan. Kebudayaan-kebudayaan tersebut akan dijabarkan
sebagai berikut : SISTEM KEPERCAYAAN Hampir semua
orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang
tidak beragama Islam, diantaranya orang-orang
Baduy yang tinggal di Banten Tetapi juga ada yang beragama Katolik,
Kristen, Hindu, Budha.Selatan. Praktek-praktek sinkretisme dan
mistik masih dilakukan. Pada dasarnya seluruh
kehidupan orang Sunda ditujukan untuk memelihara
keseimbangan alam semesta.Keseimbangan magis
dipertahankan dengan upacara-upacara adat, sedangkan
keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan
saling memberi (gotong royong).Hal yang menarik dalam kepercayaan Sunda,
adalah lakon pantun Lutung Kasarung, salah satu tokoh budaya
mereka, yang percaya adanya Allah yang Tunggal (GuriangTunggal)
yang menitiskan sebagian kecil diriNya ke
dalam dunia untuk memelihara kehidupan manusia (titisan Allah
ini disebut Dewata). Ini mungkin bisa menjadi jembatan untuk
mengkomunikasikan Kabar Baik kepada mereka.MATA PENCAHARIAN
Dan ini macam-macam dan penjelasan kebudayaan jawa barat:
Tari jaipongan
Tari jaipong adalah sebuah genre kesenian yang lahir dari kreativitas
seorang seniman Bandung yakni Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian salah
satunya adalah Ketuk Tilu membuat beliau mengetahui dan mengenal betul
perbendaharaan pola – pola gerak tari tradisi yang ada pada
Kiliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak – gerak bukaan, pencugan , nibakeun
dan beberapa ragam gerak minced dari dari beberapa keseniaan diatas cukup
memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal
dengan Jaipongan. Kemunculan tarian hasil karya Gugum Gumbira pada awalanya
disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan
pengembangan dari Ketuk Tiiu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental
dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya,
yang kemudian tarian itu menjadi popular dengan sebutan Jaipongan.Karya
Jaipongan pertama yang dikenal oleh masyarakat adalah tari Daun Pufus Keser
Bojong dan tari Rendeng Bojong, yang keduanya merupakan jenis tai putrid dan
berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari
Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali dan Pepen Dedi
Kurnaedi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, dimana
isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dart vulgar. Namun dari ekspos
beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi
setelah Tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI Stasiun Pusat
Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi
pertunjukkan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang
diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.
Namun sebelum bentuk seni pertunjukkan itu muncul ada pengaruh yang melatar
belakangi bentuk dari pergaulan tersebut. Di Jawa Barat misalnya, tari
pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukkan
tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan Ronggeng dan Pamogoran. Ronggeng
dalam tari pergaulan tak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk
hiburan atau cara gaul. Keberadaan Ronggeng dalam seni pertunjukkan memilki
daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk
Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini
popular sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukkan rakyat, kesenian ini
hanya didukung oleh unsur-unsur yang sederhana, seperti waditra yang meliputi
rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk dar goong. Demikian pula
dengar gerak-gerak tarinya yang tidaN memiliki pola gerak yang baku kostum
penari yang sederhanz sebagai cerminan kerakyatan.
Kehadiran Tari Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap
para penggarap seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat
yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya Tarl Jaipongan, dimanfaatkan
oleh para penggiat seni taxi unttuk menyelenggarakan kursus-kursus tari
Jaipongan dan dimanfaatkan pula oleh pengusaha-pengusaha Pub-pub malam sebagai
pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacarn
ini dibentuk oleh para penggiat taxi sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan
nama Sanggar Tan atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya
di Subang dengan Jaipongan gaya kaleran.
Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris,
semangat, spontanitas dan kesederhanaan (alami/apa adanya). Hal itu tercermin
dalam pola penyajian taxi pada pertunjukkannya, ada yang diberi pola (Ibing
Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada tarian yang
tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada Seni jaipongan Subang dan Karawang.
Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya Kaleran, terutama di daerah
Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini sebagai berikut : 1)
Tatalu ; 2) Kembang Gadung 3) Buah Kawung Gopar ; 4) Tari Pembukaan (Ibing
Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinde Tatandakan (seorang
Sinden tetapi tidak menyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5)
Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukkan ketika para penonton
(Bajidor) sawer uang (Jabanan) sambil salam temple. Istilah Jeblokan diartikan
sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan selanjutnya dari Jaipongan terjadi pada tahun 1980-1990-an,
dimana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari,
Sonteng, Pencug, Kuntul Man gut, Iring-firing Daun Puring, Rawayan dan Tari
Kawung Anten. Dari taritarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang
handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna,
Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepi, Agah, Aa Suryabrata dan Asep
Safaat.
Dewasa ini Tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas
kesenian Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acaraacara penting yang
berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka
disambut dengan Tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke
mancanegara senantiasa dilengkapi dengan Tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak
mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik
pada seni pertunjukkan wayang, degung, genjring/terebangan. kacapi jaipong dan
hampir semua pertunjukkan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang
dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.
Sisingaan
Sisingaan adalah suatu kesenian khas masyarakat Sunda (Jawa Barat)
yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil
menari. Di atas boneka singa yang diusung itu biasanya duduk seorang anak yang
akan dikhitan atau seorang tokoh masyarakat. Ada beberapa versi tentang
asal-usul kesenian yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Jawa Barat
ini. Versi pertama mengatakan bahwa sisingaan muncul sekitar tahun 70-an. Waktu
itu di anjungan Jawa Barat di TMII ditampilkan kesenian gotong singa atau
sisingaan yang bentuknya masih sederhana. Dan, dari penampilan di anjungan Jawa
Barat itulah kemudian kesenian sisingaan menjadi dikenal oleh masyarakat hingga
saat ini.
UPACARA ADAT PERKAWINAN SUKU SUNDA
Adat Sunda merupakan salah satu pilihan calon mempelai yang ingin merayakan
pesta pernikahannya. Khususnya mempelai yang berasal dari Sunda. Adapun
rangkaian acaranya dapat dilihat berikut ini. Nendeun Omong, yaitu
pembicaraan orang tua atau utusan pihak pria yang berminat mempersunting
seorang gadis.Lamaran. Dilaksanakan orang tua calon pengantin beserta keluarga
dekat. Disertai seseorang berusia lanjut sebagai pemimpin upacara. Bawa
lamareun atau sirih pinang komplit, uang, seperangkat pakaian wanita sebagai
pameungkeut (pengikat). Cincin tidak mutlak harus dibawa. Jika dibawa,
bisanya berupa cincing meneng, melambangkan kemantapan dan keabadian.Tunangan.
Dilakukan ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu penyerahan ikat pinggang
warna pelangi atau polos kepada si gadis.Seserahan (3 – 7 hari sebelum
pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah
tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain. Ngeuyeuk seureuh (opsional,
Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum
akad nikah.)Dipimpin pengeuyeuk.Pengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar
meminta ijin dan doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat
melalui lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawanten,
pangradinan dan sebagainya.Diiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk Disawer
beras, agar hidup sejahtera.dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar
memupuk kasih sayang dan giat bekerja.Membuka kain putih penutup pengeuyeuk.
Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum
ternoda.Membelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin pria).
Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat menyesuaikan
diri.Menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin
pria).Membuat lungkun. Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung
menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua
dan para tamuyang hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila
berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan handai taulan.Berebut uang di
bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang
keluarga.Upacara Prosesi Pernikahan Penjemputan calon pengantin pria,
oleh utusan dari pihak wanita
Ngabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga
melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua
calon pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.Akad nikah, petugas
KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat nikah.Kedua orang tua
menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan di sebelah
kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti
penyatuan dua insane yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai
akan menandatangani surat nikah.Sungkeman,Wejangan, oleh ayah pengantin wanita
atau keluarganya.Saweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil
penyaweran, pantun sawer dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang
tua pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi payung besar diselingi
taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.Meuleum harupat, pengantin
wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram kan kepengantin wanita
dengan kendi air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria. Nincak endog,
pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas kakinya dicuci
dengan air bunga dan dilap dengan pengantin wanitanya.Buka pintu. Diawali
mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan
dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka.
Pengantin masuk menuju pelaminan.
Jadi Suku Sunda merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Jawa. Suku
Sunda memiliki kharakteristik yang unik yang membedakannya dengan masyarakat
suku lain.Kekharakteristikannya itu tercermin dari kebudayaan yang dimilikinya
baik dari segi agama, bahasa, kesenian, adat istiadat, mata pencaharian, dan
lain sebagainya.Kebudayaan yang dimiliki suku Sunda ini menjadi salah satu
kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang perlu dan tetap harus dijaga
kelestariannya.
Sumber:
www.westjavatourism.com
http://uun-halimah.blogspot.com/2008/09/sisingaan-kesenian-tradisional.html